PENGERTIAN
Manajemen ritel
adalah pengaturan keseluruhan faktor-faktor yang ebrpengaruh dalam proses
perdagangan ritel,yaitu perdagangan langsung barang dan jasa kepada konsumen.
Kata ritel
berasal dari bahasa Perancis, ritellier, yang berarti memotong atau memecah
sesuatu. Retail atau eceran (retailing) dapat dipahami sebagai semua kegiatan
yang terlibat dalam penjualan barang atau jasa secara langsung kepada konsumen
akhir untuk penggunaan pribadi dan bukan penggunaan bisnis. Sering kali
orang-orang beranggapan bahwa ritel hanya menjual produk-produk di toko. Tetapi
retail (ritel) juga melibatkan pelayanan jasa layanan antar ke rumah-rumah.
Tidak semua ritel dilakukan ditoko. Kegiatan yang dilakukan dalam bisnis retail
(ritel) adalah menjual berbagai produk, jasa atau keduanya, kepada konsumen
untuk keperluan konsumsi pribadi maupun bersama. Produsen menjual
produk-produknya kepada peretail maupun peritel besar (wholesaler). Peritel
besar ini juga kerap disebut sebagai grosir atau pedagang partai besar.
Secara Harfiah Ritel / Retail = eceran, dan peritel /
retailer = pengecer, atau pengusaha perdagangan eceran.
Menurut Kamus,
retail adl penjualan barang atau jasa kepada khalayak (Manser, 1995)
Definisi bisnis ritel adalah :
Definisi bisnis ritel adalah :
1.
Penjualan kepada konsumen akhir
2.
Motivasi pembelian konsumen adalah kepentingan tersendiri dan
tidak untuk dijual, atau paling tidak lebih dari separuh penjualannya adalah
kepada konsumen untuk kepentingannya sendiri.
Ruang Lingkup Bisnis Retail
Bisnis retail
tidak hanya sekadar merupakan penjualan barang secara fisik, tetapi juga
meliputi penjualan jasa. tiket pesawat, warnet, jasa telekomunikasi. Penjualan
Jasa ini disebut “Real Services”. Selain itu yang termasuk didalam penjualan
barang (Complementary services) yakni : layanan pesan antar, jaminan, leasing,
dan fasilitas kredit. Pengertian Bisnis retail tidak hanya mencakup sebuah took
tapi juga aktivitas sejenis yang tidak menggunakan tempat khusus dalam proses
jual beli dan direct selling. Disini yang berperilaku sebagai retailer adalah
grosir, wholesaler, dan manufacture.
Fungsi
Ritel
Ritel merupakan
tahap akhir proses distribusi dengan dilakukannya pnjualan langsung pada
konsumen akhir. Dimana bisnis retail berfungsi sebagai perantara antara
distributor dengan konsumen akhir, Retailer berperan sebagai penghimpun barang,
took ritel sebagai tempat rujukan. Ritel berperan sebagai penentu eksistensi
barang dari manufacture di pasar konsumsi.
Klasifikasi Ritel:
Klasifikasi Ritel:
1.
Klasifikasi deskriptif
Pasar
ritel dibagi menjadi 2 tipe yaitu berdasarkan :
a)
tipe
kepemilikan (type of ownership)
b)
tipe
keragaman barang yang dijual(type of merchandise carried)
2.
Klasifikasi strategic
Pasar
retel dibedakan berdasarkan strategi yang digunakan,yaitu :
a)
margin/turnover
strategy
b)
retail
price and service strategy
c)
strategic
group classification
d)
gross
margin – merchandise type classification
3.
Klasifikasi tingkat pelayanan, Dibagi menajadi :
a)
penjualan
eceran swalayan
b)
penjualan
eceran dengan memilih dendiri
contoh : toko baju dipasar
c)
penjualan
eceran dengan penjualan terbatas
contoh : toko elektronik
d)
penjualan
eceran dengan pelayanan penuh
contoh : toko perhiasan,butik
Faktor-faktor
yang berpengaruh terhadap bisnis ritel adalah 4P yaitu
1.
Place,
2.
Price,
3.
Produck
dan
4.
Promotion
STRATEGI
PERTUMBUHAN RITEL
Ada empat jenis pertumbuhan yang diusahakan oleh ritel yaitu
1.
penembusan pasar
2.
perluasan pasar,
3.
pengembangan format ritel dan
4.
diversifikasi.
Kesempatan
penembusan pasar meliputi usaha-usaha langung terhadap konsumen yang ada dengan
menarik konsumen pada target pasar sekarang yang tidak berbelanja di tokonya
untuk lebih sering mengunjungi toko tersebut atau untuk membeli lebih banyak
barang pada tiap kunjungan. Pendekatan lain adalah dengan penjualan silang
yaitu dengan menjual barang-barang tambahan pada konsumen.
Kesempatan
perluasan pasar menggunakan format ritel yang ada dalam segmen pasar baru.
Dalam hal ini segmen pasar ditetapkan didipertajam untuk memenuhi selera dari
target pasar yang ingin dibidik secara tersendiri.
Pengembangan
format ritel meliputi penawaran format ritel baru, misalnya dengan menggunakan
internet marketing atau e-commerce sehingga konsumen bisa berbelanja tanpa
harus ke lokasi.
Trend Industri Ritel
Industri retail (ritel) berubah dengan cepat.
Perubahan-perubahan itu dapat dilihat dari:
1. Perbedaan yang
mendasar dan terus berkembang dalam format ritel.
2.
meningkatnya konsentrasi industri.
3.
Globalisasi dan
4. Penggunaan
berbagai cara untuk berinteraksi dengan konsumen.
Saat ini
konsumen dapat membeli barang yang sama dari sejumlah retail (ritel) yang
berbeda. Masing-masing format ritel menargetkan pangsa pasar yang berbeda dan
yang semakin meningkat. Tiap jenis retail (ritel) menawarkan manfaat yang
berbeda, sehingga para konsumen bisa berlangganan pada retail (ritel) yang
berbeda untuk pembelian dan kebutuhan yang berbeda. Pada awalnya retail (ritel)
adalah bisnis lokal. Saat ini, konsep ritel yang berhasil disebuah negara telah
berkembang secara global. Ritel biasanya tergantung pada apa yang dinamakan
keunggulan bersaing di negara tersebut:
1. Pasar Domestik
yang semakin Jenuh
2.
Di Amerika Serikat, banyak peritel gagal karena banyaknya
para pelaku pasar yang memiliki kesamaan produk yang dijual. Hal ini mendorong
peritel tersebut melakukan ekspansi ke luar negeri. Sistem dan Keahlian. Saat
ini peritel memiliki kemampuan mengatur toko-toko yang ada di luar negeri
dengan lebih baik karena kemampuan mereka dalam mengelola sistem informasi dan
distribusi yang lebih mudah ditransfer dari negara asalnya.
3. Hilangnya
batasan perdagangan. Kebijakan perdagangan internasional yang menghapus
berbagai hambatan dalam perdagangan seperti WTO atau NAFTA.
SALURAN DISTRIBUSI:
Saluran
tradisional, masing-masing pihak mempunyai tugas yang terpisah.
Saluran penjualan tradisional
telah berubah menjadi saluran vertikal, dimana dalam beberapa jalur distribusi
barang dagangan, produsen, pedagang besar dan peritel ditangani oleh
perusahaan-perusahaan independen yang bukan merupakan anggota saluran distribusi.
Saluran vertikal merupakan saluran distribusi yang melibatkan sekumpulan
perusahaan anggota saluran. Biasanya mereka mengggunakan integrasi vertikal
yang terdiri dari produsen, pedagang besar, dan peritel yang bertindak sebagai
satu sistem yang terintegrasi.
Sistem pemasaran vertikal ini
dapat didominasi oleh produsen, pedagang besar, atau peritel. Sistem ini muncul
akibat adanya upaya anggota saluran yang lebih kuat untuk mengendalikan
perilaku saluran dan menghilangkan konflik yang terjadi bila para anggota
saluran independen mengejar tujuan mereka sendiri. Contoh, kebanyakan peritel
besar di AS seperti Wal-Mart dan Home Depot maupun Makro di Indonesia melakukan
dua aktivitas sekaligus, yaitu penjualan grosir dan ritel. Mereka membeli
secara langsung dari produsen, mengirimkan barang-barang dagangan ke gudang
untuk disimpan, dan kemudian mendisribusikan barang-barang tersebut ke
toko-toko mereka
Format Ritel Baru
Selama 20 tahun terakhir ini,
telah banyak bermunculan format ritel-ritel baru. Konsumen saat ini
dimungkinkan untuk membeli produk yang sama dari format ritel yang berbeda, hal
ini menunjukkan bahwa sebenarnya tidak mudah melakukan pengklasifikasian ritel,
mengingat beberapa ritel dengan format yang berbeda ternyata menyediakan barang
dengan jenis yang sama. Sebagai contoh, sebuah hypermarket menyediakan pula
sejumlah produk fesyen (busana) maupun elektronik.
Di sisi lain terdapat beberapa
tipe ritel baru yang dapat berdampingan dengan ritel tradisional. Ritel-ritel
tersebut menawarkan keuntungan-keuntungan berbeda bagi konsumen sehingga
konsumen menjadi tertarik untuk membeli pada ritel tersebut. Ritel sebelumnya
hanya bertindak sebagai bisnis lokal yang dikelola dan dioperasikan oleh
orang-orang yang menetap dalam komunitas yang sama dengan lokasi bisnis ritel.
Namun saat ini fenomena tersebut sudah berubah. Berbagai ritel asing seperti
Walt-Mart, Giant, dan Carrefour mulai menjadi perusahaan global yang mampu
melakukan ekspansi pasar hingga ke berbagai negara di dunia.
Perbedaan
yang Mendasar dan Terus Berkembagn dalam Format Ritel
Sejalan dengan munculnya beragam
format ritel baru, saat ini konsumen dapat membeli barang yabng sama dari
sejumlah ritel berbeda. Contohnya hypermarket yang menekan
keberadaan supermarket dalam format ritel barang dagangan kategori makanan di
Indonesia. Masing-masing format ritel menargetkan segmen pasar yang berbeda dan
yang menggambarkan tren atau kecenderungan terhadap keanekaragaman barang
dagangan yang semakin meningkat. Supermarket (dengan luas area
antara 1.500-3.000 meter persegi) dapat dikategorikan sebagai format utama
sedang format lain yang lebih kecil adalah minimarket seperti
Alfa Minimarket. Ritel jenis ini biasanya berupa toko yang lebih kecil yang
dibangun di lokasi pinggiran kota. Tiap jenis ritel menawarkan manfaat yang
berbeda, sehingga para konsumen bisa berlangganan pada ritel yang berbeda untuk
pembelian dan kebutuhan yang berbeda.
Proses Perencanaan & Manajemen Ritel
Dalam
memilih retail store, pembeli mempertimbangkan banyak hal. Faktor yang
diperhatikan adalah yang berkaitan dengan kebutuhan ekonominya. Di lain pihak
kebutuhan emosional (seperti gengsi) juga kadangkala mempengaruhi pilihannya.
Faktor-faktor ekonomi yang
relevan dalam memilih retail store antara lain meliputi:
a)
Harga.
Ada retail store yang memasang harga mati seperti supermarket dan departement store) dan ada pula yang menetapkan harga fleksibel atau dapat ditawar (seperti discount store).
Ada retail store yang memasang harga mati seperti supermarket dan departement store) dan ada pula yang menetapkan harga fleksibel atau dapat ditawar (seperti discount store).
b)
Kemudahan
Kemudahan parkir, bisa cepat pergi setelah membayar, dan mudah mencari barang yang diinginkan (meliputi proses menemukan, membandingkan, dan memilih).
Kemudahan parkir, bisa cepat pergi setelah membayar, dan mudah mencari barang yang diinginkan (meliputi proses menemukan, membandingkan, dan memilih).
c)
Kualitas produk yang ditawarkan.
d)
Bantuan wiraniaga.
Apakah harus swalayan, membantu ecara pasif, atau membantu secara aktif.
Apakah harus swalayan, membantu ecara pasif, atau membantu secara aktif.
e)
Reputasi
Kejujuran dan kewajaran dalam jual beli
Kejujuran dan kewajaran dalam jual beli
f)
Nilai yang ditawarkan
Yaitu perbedaan total customer value dan total customer cost. Total customer value adalah sekumpulan manfaat yang diharapkan pelanggan dari produk dan jasa, meliputi product value (misalnya keandalan, daya tahan/keawetan, unjuk kerja), service value (penyerahan barang, pelatihan, instalasi, perawatan, reparasi), personnel value (kompeten, responsif, empati, dapat dipercaya), dan image value (citra perusahaan). Sedangkan total customer cost terdiri dari harga yang dibayarkan, biaya waktu, biaya tenaga, dan biaya psikis.
Yaitu perbedaan total customer value dan total customer cost. Total customer value adalah sekumpulan manfaat yang diharapkan pelanggan dari produk dan jasa, meliputi product value (misalnya keandalan, daya tahan/keawetan, unjuk kerja), service value (penyerahan barang, pelatihan, instalasi, perawatan, reparasi), personnel value (kompeten, responsif, empati, dapat dipercaya), dan image value (citra perusahaan). Sedangkan total customer cost terdiri dari harga yang dibayarkan, biaya waktu, biaya tenaga, dan biaya psikis.
g)
Jasa-jasa khusus yang ditawarkan.
Pengiriman barang gratis, pembelian kredit dan bisa mengembalikan atau menukar barang yang sudah dibeli.
Pengiriman barang gratis, pembelian kredit dan bisa mengembalikan atau menukar barang yang sudah dibeli.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar